Profil Museum Sri Baduga

Menurut fisiografis Jawa Barat, wilayah antara Banten dan Cirebon merupakan dataran rendah alluvial di bagian utara dan pegunungan di bagian selatan. Perbandingan antara bagian dataran rendah dengan bagian pegunungan adalah 1:3. Jadi lebih luas wilayah pegunungan dari pada wilayah dataran rendah. Ekadjati,Edi S.(1995:15).
           Tanah endapan alluvial dan debu vulkanis merupakan lapisan tanah yang sangat subur untuk tumbuhan. Dalam sejarah Jawa Barat tercatat berbagai jenis tanaman bernilai ekonomi tinggi,seperti:tarum (indigo), padi, dan lada, kopi, teh, kina, tebu, kelapa. Hasil-hasil agraris tersebut menjadi unggulan sampai abad 17 Masehi .
              Faktor  alam ini memengaruhi  aktivitas kehidupan manusia dan kebudayaan di dalamnya. Pakwan Padjadjaran  sebagai ibokota kerajaan Sunda berada di wilayah dataran tinggi atau pegunungan. Sejarah mencatat bahwa Pakwan Padjadjaran mengalami beberapa kali perpindahan pusat kerajaan (Galuh, Kawali, Saunggalah, Pakwan Padjadjaran).
           Kerajaan-kerajaan besar di Jawa pada dasarnya adalah lebih bercorak kepada kerajaan pedalaman, sementara daerah pantai memiliki dinamika yang lebih terbuka terhadap pengaruh kebudayaan yang datang dari luar. Ricklefts(1981:22)
           Dengan demikian kebudayaan di daerah pegunungan  mewariskan tinggalan budaya yang cenderung bercorak sakral, sementara kebudayaan di daerah pesisiran  lebih dinamis dan terbuka terhadap pengaruh kebudayaan luar.
Museum Sri Baduga berdiri sejak 1970 dan diresmikan 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan DR.Daoed Yusuf, sepuluh tahun kemudian diberi nama Sri Baduga. Sri Baduga diambil dari gelar raja Padjadjaran abad ke 16. Nama Sri Baduga itu sendiri tertulis dalam sebuah prasasti Ciaruteun Bogor .
          Bangunan Museum Sri Baduga mengambil arsitektur rumah tradisional Sunda Suhunan Panjang dan rumah panggung dipadukan dengan gaya bangunan modern. Bangunan ini dahulu adalah kantor Kewedanaan Tegal Lega. Bangunan tersebut masih tetap dipertahankan dan digunakan sebagai ruang Kantor Tata Usaha.
Museum Sri Baduga di waktu Malam
        Sebagi suatu lembaga pemerintah yang memiliki tugas dan fungsi melestarikan tinggalan budaya masyarakat Jawa Barat, museum ini menyimpan dan memamerkan seluruh jenis benda koleksi sejarah budaya dan sejarah alam Jawa Barat. Sampai tahun 2008, museum Sri Baduga menyimpan 6.600 koleksi yang terdiri dari sepuluh klasifikasi, yaitu : geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika/heraldika, filologika, keramikologika, seni rupa, dan teknologika.
 Lokasi Museum Sri Baduga bersebelahan dengan Taman Lapang Bandung Lautan Api atau Tegal lega. Dari arah selatan dapat dicapai melalui jalan pintu keluar tol Moh.Toha dan dari arah barat melalui pintu tol Pasir Koja memutar ke kanan ke arah  jalan B.K.R, sementara dari arah timur dapat ditempuh melalui jalan PETA menuju PT.INTI dan arah utara melalui jalan Otto Iskandardinata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar